imaginasi

haloooooooooooooooooooo

Rabu, 05 Mei 2010

diagnosis penyakit kuning pada cabai

A. Pendahuluan
Serangan penyakit yang di sebabkan oleh virus telah membuat heboh dan mengagetkan banyak orang. Sebut saja SARS, AIDS, flu burung (avian influenza), dan akhir-akhir ini kasus virus polio di Sukabumi yang mengakitbatkan kelumpuhan. Bagi petani cabai, ternyata serangan virus telah menjadi sesuatu yang menakutkan pula. Betapa tidak, dalam beberapa tahun terakhir ini ribuan hektar cabai luluh lantah di terjang virus dengan gejala kuning keriting. Budidaya tanaman cabe sangat menantang disamping punya prospek cerah. memang kendala dilapangan banyak.
Para petani cabe sudah menyadari kalau tanaman cabe sangat riskan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Oleh karena itu upaya perawatan tanaman cabe secara intensif diperlukan. Tanaman cabe dapat tumbuh dan berkembang dengan baik asal gangguan OPT dapat terdeteksi secara dini. Sehingga tanaman selamat dan kerugian pun dapat dihindari. Pada hakekatnya mencegah lebih baik dari pada mengobati. Intensitas serangan OPT pada level berat dapat menurunkan produksi, bahkan bisa gagal panen.
Untuk itu petani kita perlu memahami dan mengenali secara baik gejala-gejala yang ditimbulkan oleh serangan OPT. Kekurang pengetahuan petani akan menghambat upaya pencegahan secara dini, akibatnya setelah mengalami serangan berat, baru berusaha mencegah, sehingga kurang maksimal dan tidak efektif lagi.
Salah satu OPT yang perlu diwaspadai adalah penyakit Virus Kuning. Penyakit ini sangat merugikan, Penyakit tanaman cabe tberupa virus kuning atau Bule sangat mengganggu. Penyakit ini disebabkan oleh serangga yang disebut Besmisia tabaci atau kutu kebul. Serangan virus kuning bisa berakibat pada penurunan produksi cabe bahkan kecenderungan gagal panen.
Secara kasat mata gejala serangan penyakit Virus Kuning mudah dikenali dengan ciri-ciri: Terjadi klorosis pada anak tulang daun dari daun muda dan menyebar keseluruh bagian tanaman, hingga tampak tanaman menguning, Daun mengeriting keatas, menebal dengan ukuran yang mengecil. . Pertumbuhan terhambat atau kerdil. Jika ciri-ciri serangan penyakit Virus Kuning telah diketahui, langkah-langkah selanjutnya mengedepankan metode pengendalian secara PHT, agar supaya tanaman bisa aman tetapi lingkungan juga aman dari pencemaran yang diakibatkan oleh penggunaan pestisida yang kurang bijak.
Sejak kapan tanaman cabai terserang virus dengan gejala kuning keriting, tak ada catatan yang pasti. Namun pada tahun 2003, virus telah meresahkan dan merugikan petani di berbagai sentra tanaman cabai di Indonesia (Kompas, 31 Mei, 2003; Trubus April 2003/XXXIV). Kumulatif luas serangan penyakit virus kuning per Desember 2004 mencapai 984,6 hektar (MI online-2/9/05). Direktorat Perlindungan Holtikultura Departemen Pertanian RI, memperkirakan tingkat kehilangan hasil petani sekitar 1.626 ton. Dengan harga cabai di tingkat petani Rp 4.500 per kilogram (kg) maka tingkat kerugian mencapai 7,31 milyar. Hingga saat ini, penyakit virus kuning telah menyerang lahan tanaman cabai di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Bali, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Bengkulu, Kalimantan Timur dan Gorontalo. Di Sleman, virus yang lebih di kenal dengan bule amerika ini telah meluluh lantahkan lebih dari 116 hektar tanaman cabai.
Akhir-akhir ini penyakit virus kuning pada cabai telah mengakibatkan kerugian di berbagai sentra produksi cabai di Indonesia. Di DIY, Jawa Tengah, Sumatera Barat dan Lampung, epidemi penyakit ini telah menyebabkan kerugian bagi petani hingga mencapai milyaran rupiah. Sampai sekarang belum ditemukan varietas cabai yang tahan terhadap penyakit ini. Virus mempunyai kisaran inang yang luas dan mampu menginfeksi beberapa jenis tanaman, diantaranya tomat dan gulma wedusan/babadotan (Ageratum conyzoides).
B. Gejala dan Virus Penyebab Penyakit
Penyebab : Geminivirus “TYLCV” (Tomato Yellow Leaf Curl Virus).
Morfologi /Daur Penyakit
Gejala Serangan
Helai daun mengalami “vein clearing”, dimulai dari daun-daun pucuk, berkembang menjadi warna kuning yang jelas, tulang daun menebal dan daun menggulung ke atas (cupping). Infeksi lanjut dari geminivirus menyebabkan daun-daun mengecil dan berwarna kuning terang, tanaman kerdil dan tidak berbuah (Gambar 1).
Tanaman Inang Lain
Tomat, cabe rawit, tembakau, gulma babadotan (Ageratum conyzoides) dan gulma bunga kancing (Gomphrena globosa).
Gambar 1. Gejala serangan penyakit virus kuning cabai
Geminivirus termasuk kelompok virus tanaman dengan genomnya berupa DNA utas tunggal, berbentuk bundar, dan terselubung dalam virion ikosahedral kembar (geminate).
Penyakit tidak ditularkan melalui biji, tetapi dapat menular melalui penyambungan dan melalui serangga vektor kutu kebul. Kutu kebul dapat menularkan geminivirus secara persisten (tetap ; yaitu sekali makan pada tanaman yang mengandung virus, selamanya sampai mati dapat menularkan)
Tanaman cabai yang terserang virus ini menunjukkan gejala: daun menguning cerah/pucat, daun keriting (curl), daun kecil-kecil, tanaman kerdil, bunga rontok, tanaman tinggal ranting dan batang saja, kemudian mati (Gambar 1-2).

Infeksi virus pada awal pertumbuhan tanaman menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan tidak menghasilkan bunga dan buah. Gejala kuning dapat dilihat dari kejauhan. Sedangkan gejala pada tanaman tomat adalah berupa tepi daun menguning atau pucat dan melekuk ke atas seperti mangkok (cupping),daun mengeras, daun mengecil dan tumbuh tegak, tanaman menjadi kerdil apabila terinfeksi virus sejak awal pertumbuhan (Gambar 3)

Penyakit kuning cabai di Indonesia disebabkan oleh virus dari kelompok/Genus Begomovirus (singkatan dari: Bean golden mosaic virus), Famili Geminiviridae. Geminivirus dicirikan dengan bentuk partikel kembar berpasangan (geminate) dengan ukuran sekitar 30 x 20 nm. Di Cuba, penyakit kuning pada cabai disebakan oleh Tomato yellow leaf curl virus (TYLCV).
Virus ditularkan oleh kutu putih atau kutu kebul (Bemisia tabaci) secara persisten yang berarti selama hidupnya virus terkandung di dalam tubuh kutu tersebut (Gambar 4). Virus tidak ditularkan lewat biji dan juga tidak ditularkan lewat kontak langsung antar tanaman.

Serangan virus ini pada tanaman cabai menunjukkan gejala bercak kuning di atas permukaan daun, dan perlahan-lahan bercak itu meluas hingga seluruh permukaan daun menguning. Bentuk daun menjadi lebih kecil dari ukuran daun normal, melengkung dan kaku. Pada serangan yang berat, hamparan cabai bisa berubah warna menjadi kuning, lalu daun akan rontok. Bila kita perhatikan tanaman yang terserang virus ini maka di bawah permukaan daun akan di terlihat kutu berwarna putih/kutu kebul (Besimia tabaci Genn.) yang di duga sebagai vektor (pembawa) penyebar virus. Melihat gejala di atas dan adanya kutu kebul, ada dugaan bahwa penyakit kuning keriting tersebut di sebabkan oleh geminivirus.
Geminivirus merupakan virus tanaman yang banyak menimbulkan kerusakan di daerah tropik dan subtropik. Geminivirus ini mempunyai genom berupa DNA utas tunggal (single stranded/ss DNA), berbentuk lingkaran dan terselubung protein dalam virion ikosahedral kembar (gemini) dengan ukuran 18~30 nm. Virus ini diklasifikasikan dalam famili Geminiviridae yang terbagi dalam 4 genus (Mastrevirus, Curtovirus, Topovirus, dan Begomovirus) berdasarkan struktur genom, serangga vektor dan tanaman inang. Genus Mastrevirus mempunyai genom berukuran 2.6~2.8-kilo base (kb), ditularkan oleh wereng hijau (Leafhopper) ke tanaman monokotil. Genus Curtovirus merupakan virus dengan genom berukuran 2.9~3.0 kb., ditularkan juga oleh wereng hijau (Leafhopper) ke tanaman dikotil. Genus Topovirus mempunyai ukuran genom yang sama dengan Curtovirus, namun virus ini ditularkan oleh wereng pohon (Treehopper) ke tanaman dikotil. Sedangkan genus Begomovirus mempunyai genom berukuran 2.5~2.9 kb., yang menyerang tanaman dikotil dan ditularkan oleh kutu kebul (Whitefly, Bemisia tabaci Genn.). Begomovirus mempunyai spesies yang paling banyak dan menyerang banyak tanaman di bandingan 3 genus yang lainnya. Untuk membedakan virus sampai ke tingkat spesies maka mengetahui urutan sekuen DNA merupakan cara yang paling tepat.
Hasil sekuen DNA begomovirus asal tanaman cabai dari Indonesia dibandingkan dengan beberapa spesies begomovirus yang telah di ketahui di GenBank diantaranya Tomato yellow leaf curl virus (TYLCV, X15656), Tomato leaf curl virus (ToLCV, S53251), Tomato yellow leaf curl Thailand virus (TYLCTHV, X63015), Ageratum yellow vein virus (AYVV, X74516), Pepper leaf curl virus (PepLCV, AF134484), Tomato leaf curl Indonesia virus (ToLCIDV, AF189018) dan Tomato leaf curl Java virus (ToLCJAV, AB100304), menunjukkan kesamaan sekuen DNA di bawah 90%. Artinya bahwa begomovirus asal tanaman cabai dari Indonesia merupakan spesies yang berbeda dengan begomovirus yang sudah di laporkan sebelumnya. Kemudian di namakan Pepper yellow leaf curl Indonesia virus (PepYLCIDV) dan terdaftar di DDBJ (DNA Data Bank of Japan), EMBL (The European Molecular Biology Laboratory) atau GenBank dengan accession number AB189850. Secara genetik PepYLCIDV mempunyai hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan ToLCPHV asal Filipina di bandingkan spesies lainnya.
C. Cara Pengendalian
Sampai saat ini belum ditemukan bahan kimia atau cara fisik yang dapat mematikan atau menginaktifkan begomovirus dalam tanaman tanpa mempengaruhi kehidupan tanaman itu sendiri. Oleh karena itu, saat ini pengendalian penyakit virus ini bukan ditujukan untuk menyembuhkan tanaman yang terinfeksi, namun lebih mengutamakan pada pengelolaan ekosistem yang dapat mencegah dan mengurangi terjadinya infeksi virus pada pertanaman lainnya.
Secara alamiah begomovirus tidak menular melalui benih tapi hanya menular dengan bantuan serangga B. tabaci dari tanaman satu ke tanaman lainnya. Karena itu, pengendalian serangga vektor (B. tabaci) dan sumber penyakit lainnya merupakan kunci dalam mengendalikan begomovirus. Bersihkan tanaman di sekitar lahan dari tanaman atau gulma yang menjadi inang begomovirus seperti tomat, babadotan (Ageratum conyzoides L.), atau tembakau. Waspadai bila tanaman tomat menunjukkan gejala daun kekuningan atau menggulung, dan babadotan dengan lurik kekuningan, karena bisa menjadi sumber virus yang akan menyerang tanaman anda.
Bila ada tanaman cabai yang menunjukkan gejala daun kuning keriting/melengkung sebaiknya di cabut dan di buang. Mengendalikan B. tabaci dapat di lakukan secara biologi, fisik atau kimia dengan pestisida. B. tabaci dapat di kendalikan secara biologi dengan parasit Encarsia (Encarsia Formosa; E. lutela), Eretmocerus californicus, E. mundus dan E. eremicus. Namun, Encarsia lebih umum di gunakan untuk mengendalikan B. tabaci di rumah kaca maupun lapang. Patogen serangga seperti Beauveria bassiana dan Paecilomyces fumosoroseus juga dapat di gunakan untuk pengendalian B. tabaci. Pengendalian secara biologi sebaiknya di aplikasikan bila populasi B. tabaci tidak terlalu tinggi. Bila populasi tinggi sebaiknya di ikuti cara pengendalian lainnya.
Secara fisik, pengendalian dapat di gunakan dengan menggunakan perangkat (sticky traps) terbuat dari plastik atau papan berwarna kuning, lalu bungkus dengan plastik transparan yang bagian luarnya telah di beri lem/perekat. Lalu di pasang di tengah pertanaman cabai sebagai perangkap B. tabaci. Pestisida nabati seperti Pyrethrin (dari chrysanthemum) dan nimba dapat digunakan untuk menekan populasi B. tabaci. Bila menggunakan pestisida komersial sebaiknya pilih yang berbahan aktif organophospathes,, carbamates, atau pyrethroid. Pengendalian dengan pestisida sebaiknya digunakan sore hari atau pagi-pagi sebelum matahari terbit, dan dapat menjangkau permukaan bawah daun dimana biasanya B. tabaci berada.
Pengendalian penyakit yang dianjurkan adalah dengan menerapkan Manajemen Kesehatan Tanaman, artinya tanaman harus dikelola agar selalu tetap sehat, karena tanaman yang sehat akan lebih tahan terhadap infeksi virus. Pengendalian penyakit meliputi: (1) Pengolahan tanah dan pemupukan berimbang, (2) Penggunaan bibit sehat, yaitu: (a) pengerudungan persemaian menggunakan kain kasa/kelambu; (b) tempat persemaian yang terisolasi jauh dari lahan yang terserang penyakit; (c) semai dilindungi dengan pestisida nabati seperti nimba, ekstrak tembakau, dsb; (d) perlindungan dengan pestisida kimiawi dapat dilakukan secara bijaksana, (3) Sanitasi lingkungan di sekitar pertanaman cabai termasuk menghilangkan gulma dan eradikasi tanaman sakit sejak awal pertumbuhan, (4) Mengatur waktu tanam agar tidak bersamaan dengan tingginya populasi serangga penular, jarak tanam yang tidak terlalu rapat, dan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inang dari virus maupun serangga, (5) Pengendalian dengan insektisida kimiawi secara bijaksana, misalnya yang berbahan aktif imidacloprid, penyemprotan kutu putih sebaiknya dilakukan pada pagi hari antara jam 06:00-10.00 (6) Tanaman tahan atau toleran terhadap virus maupun serangga penular.
Pencegahan dan Pengendalian
Usaha pengendalian penyakit virus kuning (khususnya dengan pestisida) terutama ditujukan kepada serangga vektornya, karena sampai saat ini tidak ada pestisida yang terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian yang dapat mematikan virus. Langkah-langkah pencegahan dan pengendalian penyakit virus kuning pada tanaman cabai, antara lain ;
• Pemupukan yang berimbang, yaitu 150-200 kg Urea, 450-500 kg Za, 100-150 kg TSP, 100-150 KCL, dan 20-30 ton pupuk organik per hektar;
• Menanam varietas yang agak tahan (karena tidak ada yang tahan) misalnya cabai keriting jenis Bukittinggi ;
• Menggunakan bibit tanaman yang sehat (tidak mengandung virus) atau bukan berasal dari daerah terserang ;
• Melakukan rotasi / pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang virus (terutama bukan dari famili solanaceae seperti tomat, cabai, kentang, tembakau, dan famili cucurbitaceae seperti mentimun). Rotasi tanaman akan lebih berhasil apabila dilakukan paling sedikit dalam satu hamparan, tidak perorangan, dilakukan serentak tiap satu musim tanam, dan seluas mungkin ;
• Melakukan sanitasi lingkungan, terutama mengendalikan tumbuhan pengganggu/ gulma berdaun lebar dari jenis babadotan, gulma bunga kancing, dan ciplukan yang dapat menjadi tanaman inang virus;
• Penggunaan mulsa perak di dataran tinggi, dan jerami di dataran rendah mengurangi infestasi serangga pengisap daun;
• Eradikasi tanaman sakit, yaitu tanaman yang menunjukkan gejala segera dicabut dan dimusnahkan supaya tidak menjadi sumber penularan ke tanaman lain yang sehat.
Untuk mendukung keberhasilan usaha pengendalian penyakit virus kuning pada tanaman cabai, diperlukan peran aktif para petani dalam mengamati / memantau kutu kebul dan pengendaliannya mulai dari pembibitan sampai di pertanaman agar diketahui lebih dini timbulnya gejala penyakit dan penyebarannya dapat dicegah.
Ajuran untuk mencegah penyakit Virus Kuning agar tidak meluas diperlu beberapa langkah pencegahan agar kerugiian dapat terhendari, yaitu :
Pertama: melakukan sanitasi lingkungan dengan membersihkan gulma agar tidak menjadi inang bagi virus, apabila sudah ada tanaman yang terserang selayaknya dicabut kemudian tanaman yang sakit dibakar agar tidak menular ke yang lain.
Kedua:melakukan upaya preventif dengan penggunaan benih tahan virus kuning, penggunaan benih yang tahan virus kuning akan meminimalisir serangan virus.
Ketiga: langkah mengendalikan penyakit dengan kultur teknik dan vektornya, tindakan ini dilakukan dengan cara treatment benih direndam kedalam air hangat bersuhu 500 C selama satu jam serta upaya isolasi pesemaian.
Keempat: penggunaan mulsa plastik guna menekan pertumbuhan gulma menjadi inang bagi virus penyebab penyakit kuning. mesti biayanya mahal tetapi manfaatnya seimbang dengan hasilnya disamping pemakian mulsa akan menghemat biaya penyiangan.
Kelima: pengendalian hama terpadu dengan upaya pemanfaatan musuh alami seperti Monochilus sexmaculatus, dengan pathogen Beauveria bassiana guna mengendalikan virus kuning. Hal ini dilakukan agar cost dapat ditekan sekaligus sebagai efektifitas pengendalian OPT.
Keenam: penggunaan insektisida nabati, insektisida nabati sangat murah dan mudah cara pembuatan disamping resiko akan residunya rendah.
Ketujuh: penanaman border (tanaman pembatas) seperti penanaman tanaman jagung 5-6 baris, tumpangsari cabe kubis atau cabai tomat (BPTP, 2008).
Upaya preventif dilakukan guna lebih menekan, mengisolasi tanaman jangan sampai terjangkit penyakit ini, karena bila penyakit terlanjur menyerang tanaman akan membawa dampak pada biaya pengendalian yang mahal.

Sumber :
Anonim.2010.Perlintan. (http://faperta.ugm.ac.id/perlintan2005/brt0003.htm)
_____.2010. (http://bystrekermraanmedancity.blogspot.com/2008/09/virus-tanaman-cabai.html) (Diakses, Selasa 4 mei 2010)
______.2010. http://uniiqueok.multiply.com/journal/item/3
_______.2010.http://www.magelangkab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=231:penyakit-virus-kuning-pada&catid=83:artikelpertanian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar